BINA BANGUN BANGSA Siap Menyukseskan HARKOPNAS ke-75 Tahun 2022

Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Terkait agenda peringatan Hari Koperasi Nasional ke-75 Tahun 2022, Ketua Umum BINA BANGUN BANGSA, Nur Ridwan mengatakan siap untuk ikut serta dalam bagian penyelenggaraan event tahunan itu, dengan menyosialisasikan dan ikut serta dalam menyukseskan kegiatan yang puncak acaranya akan dilaksanakan di Denpasar Bali pada 14-17 Juli 2022.

Apalagi dengan jumlah kader anggota UMKM BINA BANGUN BANGSA yang saat ini sudah nembus 107 ribuan anggotanya di facebook, Nur Ridwan akan mengerakkan minat berkoperasi yang merupakan amanat konstitusi sebagai usaha bersama yang sesuai dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945 bagi seluruh anggotanya di BINA BANGUN BANGSA yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sebelumnya Dekopin melalui Ketua Panitia Harkopnas 2022, Dayan IP Raranta menyampaikan bahwa tema yang diangkat adalah “Pemulihan Ekonomi Melalui Kedaulatan Pangan dan Energi Bersama Koperasi.” Dengan sub tema khusus seperti: Koperasi Solusi Kelembagaan Kedaulatan Pangan Indonesia; Pengembangan Energi Baru Terbarukan menuju Kedaulatan Energi melalui Pendekatan Koperasi dan Kelompok Masyarakat; Partisipasi Koperasi dan Kelompok Perempuan dalam Isu Pangan dan Energi Baru Terbarukan.

“Jadi ada tiga isu besar yang kami angkat yaitu energi baru terbarukan, pangan dan partisipasi kelompok perempuan,” terang Dayan.

Lanjut Dayan, bahwa acara Hari Koperasi kali ini memilih Bali sebagai tempat acara karena gerakan koperasi ingin memeriahkan Presidensi G-20 serta mendukung acara tersebut yang rencananya akan dilaksanakan November 2022.(***)

Bamsoet Dukung UMKM Goes To Mandalika

Jakarta, BINA BANGUN BANGSA – Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo meyakini ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia (MotoGP Mandalika 2022) akan memberikan multiplier effect economy yang besar bagi berbagai sektor ekonomi masyarakat. Khususnya UMKM otomotif dan travel perjalanan. Atas dasar itulah, IMI mendukung langkah Kementerian Koperasi dan UKM serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyelenggarakan ajang UMKM Goes To Mandalika, sebagai pre-event Pertamina Grand Prix of Indonesia.

UMKM Goes To Mandalika menghadirkan berbagai produk dari 60 UMKM bidang otomotif dan 40 UMKM travel. Ada juga kegiatan coaching clinic oleh IMI, atraksi freestyle, fun ride electric bike, miniGP test and stuntride, sunmori, sekaligus pelepasan riders goes to Mandalika.

“Para peserta UMKM Goes To Mandalika akan turut bergabung bersama UKM unggulan lainnnya dari 14 Provinsi, yang akan menjajakan berbagai produk di 2 titik lokasi pameran yang telah disiapkan di dalam kawasan Pertamina Mandalika International Street Circiut. Produk yang dijajakan sangat beragam dari mulai automotive, merchandise, souvenir, healthy product, serta food and beverages,” ujar Bamsoet usai mengunjungi pameran UMKM Goes To Mandalika, di Gedung SMESCO, Jakarta, Minggu (6/3/22).

Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI Bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, dalam ajang UMKM Goes To Mandalika juga ada travel fair MotoGP Packages yang ditawarkan oleh berbagai anggota Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA). Berbagai paket menarik dari mulai tiket masuk MotoGP, pesawat, penginapan, hingga berbagai ragam hiburan telah disiapkan. Memudahkan masyarakat yang ingin menonton MotoGP, sekaligus membantu meningkatkan penjualan para pelaku usaha travel.

“Menjadi bukti bahwa kehadiran event olahraga balap akan turut menggerakan berbagai sektor ekonomi, memberikan multiplier effect economy yang besar bagi masyarakat. Mengingat ada seribu penonton yang akan menyaksikan MotoGP secara langsung. Potensi perputaran uangnya bisa mencapai ratusan miliar rupiah,” jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Keamanan dan Pertahanan KADIN Indonesia ini menambahkan, keberadaan Pertamina Mandalika International Street Circuit diharapkan meningkatkan produk domestik regional bruto (PDRB) NTB dari Rp 157,89 triliun menjadi Rp 160,12 triliun atau naik sekitar Rp 2,22 triliun. Selain, peningkatan devisa dari Rp 313,83 triliun menjadi Rp 315,39 triliun atau naik Rp 1,56 triliun.

“Ada juga peningkatan lapangan kerja di NTB menjadi 10,14 juta tenaga kerja. Serta peningkatan penerimaan pajak di NTB dari Rp 17,68 triliun per tahun menjadi Rp 17,93 triliun per tahun,” pungkas Bamsoet. (Bs/fb)

Koperasi di Pangandaran Beromzet Miliaran dari Usaha Olah Sabut Kelapa

Pangandaran, BINA BANGUN BANGSA – Sebuah koperasi di Pangandaran mencatatkan kinerja bisnis yang membanggakan. Mengolah sabut kelapa untuk pasar ekspor, koperasi ini mencatatkan omzet miliaran rupiah setiap bulan.

Koperasi Produsen Mitra Kelapa (KPMK), nama diri lembaga tersebut, sejak 2014 dirintis 11 pemuda di Desa Cintrakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Tak butuh waktu lama, usaha kolektif ini berkembang menjadi perusahaan yang mempekerjakan ratusan orang.

“Omzet kita terakhir Rp 1,5 miliar per bulan. Anggota koperasi 42 orang. Pegawai di unit usaha 120 orang,” ujar Yohan Wijaya, ketua KPMK, dijumpai di pabrik olah sabut kelapa, Senin (14/1/2019).

Yohan menjelaskan KPMK saat ini memiliki empat produk utama dari kelapa, yakni tepung, arang, serat dan cocopeat. Tepung dan arang, dia menjelaskan, diperuntukkan bagi pasar Nasional, sementara serat dan cocopeat, Yohan menambahkan, dikirim ke luar negeri.

“Serat atau fiber ini untuk jok mobil, sofa, kasur, tali, ini dikirim ke Tiongkok. Kalau cocopeat untuk media tanam, kita kirim ke Jepang,” ujar pria kelahiran 1982 ini.

Pencapaian bisnis KPMK ini mengundang apresiasi banyak pihak. Terakhir, melalui fasilitasi Kementerian Koperasi dan UMKM, KPMK menerima hibah lebih kurang Rp 500 juta dari lembaga pertanian asal Belanda, Agriterra.

Hibah tersebut, Yohan mengungkapkan, hanya untuk biaya penyusunan rencana bisnis (business plan) untuk pengembangan usaha KPMK.

“Kami sedang merancang pabrik terpadu, output-nya tujuh jenis produk turunan dari kelapa. Teknisnya, koperasi nanti mendirikan PT. Investasinya di kisaran Rp 200 miliar,” ujar lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung ini.

Bisnis kelapa, menurut Yohan, berpotensi besar di Kabupaten Pangandaran. Ia menggambarkan, saat ini luas perkebunan kelapa di Pangandaran mencapai 33.400 hektare. Dari luas tersebut, ia merinci, hanya 21 ribu hektare yang memproduksi kelapa, sedangkan sisanya disadap atau dideres untuk bahan gula.

“Kapastitas produksi perkebunan kita 800 ribu butir per hari. Kita saat ini baru mengolah 6 ribu butir per hari, sisanya sebagian besar dijual ke kota,” tutur Yohan.

Berkaca dari tujuan utama pendirian usaha tersebut, Yohan merasa pencapaian yang sudah diraih KPMK sudah melebihi ekspektasi. “Dulu cita-cita kami tuh cuma sederhana, hanya ingin harga jual kelapa stabil, untuk membantu orangtua-orangtua kami,” kata Yohan.

Kini, dia menuturkan, sangat banyak pemilik kebun kelapa yang ingin bergabung dengan koperasi yang mereka rintis karena KPMK membeli kelapa dengan harga yang jauh lebih mahal. “Kalau di pasaran sekarang harganya Rp 1.000, kita beli Rp 1.600. Kan kita enggak ada limbah, jadi bisa lebih mahal,” ujar Yohan.(detik)